Sudah lama da kesini, keasyikan main pesbuk seh, he.. Seandainya tidak diingatkan oleh para fans, saya da nyadar kalo sudah lebih dari 6 bulan cewekbawel da disentuh. Bukaaaaan, bukan karena kebawelan saya berkurang, buktinya saya dinobatkan sebagai guru penyarikan, tapi karena koneksi internet yang terbatas disini dan kemalasan saya pergi kewarnet..

Life’s doing so fine recently, awal bulan Juli nanti tepat satu tahun saya menetap di Amuntai. Airmata yang dulunya sempat berderai setiap malam kini mulai berhenti. Apa yang perlu ditangisi kalo setiap saya rindu rumah saya tinggal bolos dan menelpon angkutan antar kota H. Ihak untuk minta jemput.
Apa yang ingin saya bagi di tulisan kali ini? Tidak ada. Sama seperti tulisan-tulisan saya yang lain. Cuma ingin mengatakan, saya masih ada. Jangan lupakan saya ya..

NB:
Ada tiga hal yang terjadi hari ini, yaitu berpulangnya secara bareng Michael Jackson dan Farah Fawcett, pembagian raport kenaikan kelas pertama saya, dan pagelaran drama murid-murid saya yang berlangsung lumayan sukses.. Hahahaha, bangga saya..

Ahahaha.. Saya tambah dewasa nggak ya tahun ini? Berulang tahun dibulan Desember selalu mengingatkan saya untuk sekaligus membuat resolusi keinginan tahun baru saya. Jadi tahun depan kayaknya pasti lebih enak kalo…

1. Bisa lebih meningkatkan ambang kesabaran,

2. Lebih memperbanyak toleransi,

3. Punya motor baru,

4. Punya koneksi internet senyaman yang bisa didapat di kota kecil kabupaten,

5. Punya ruang mengajar yang lebih nyaman, punya meja kerja pribadi, dan punya toilet sekolah yang lebih manusiawi,

6. Punya jaringan tivi kabel,

7. Punya kepala sekolah yang lebih mengerti kalo saya harus sering bolos akhir pekan buat pulang kampung…

Hehehe, terkejut juga begitu melihat banyaknya kalimat yang diawali kata ‘punya’.

Tahun ini tahun pertama saya merayakan Ulang tahun jauh dari rumah, jauh dari makan-makan, jauh dari ucapan selamat mama abah dan ading pas tengah malam. Tapi orang ini membuat kejutan menyenangkan! Menempuh perjalanan bolak-balik 10 jam, dengan istirahat cuma 15 menit untuk mengantarkan kado, yang sperti tahun-tahun sebelumnya hanya dibungkus dengan kertas koran. Ah, laki-laki ini pasti cinta mati dengan saya, hehehehe… Romantis? Konyol? Ah,itu relatif, kawan..

Yang berbeda juga, tahun ini ucapan yang datang lewat sms dari teman-teman selalu ditutup dengan ucapan: “Doakan lulus tes PNS juga tahun ini”, seolah-olah setelah saya ‘kebetulan’ lulus tahun lalu, saya punya kekuatan ajaib dan doa manjur untuk meluluskan teman-teman yang lain juga. Rasanya seperti orang yang pergi haji terus dititipi pesan, “panggil namaku disana, supaya bisa nyusul juga”, he…

Well, bagaimanapun orang mengapresiasi hari Ulang Tahun saya, saya tetap bersyukur. Sudah hidup 20 puluh tahun lebih sedikit di dunia ini. Tadi malam saya habiskan untuk merenungi apakah jumlah manfaat yang saya beri untuk orang lain lebih banyak dari angka umur saya saat ini. Saya belum seberuntung itu ternyata. Menunjukkan saya harus lebih banyak bekerja daripada meminta..

Eh iya, menutup postingan da jelas kali ini, saya kutip tulisan yang terdapat di kado berbungkus koran saya, tulisan yang hadir setiap tahun yang sebenarnya lebih saya tunggu-tunggu dari kadonya sendiri.

Sudah banyak hari-hari yang kita lalui. Sampai kehabisan kata-kata buat menggambarkannya. Tapi memang ada beberapa hal, beberapa rasa yang da bisa dituliskan atau diucapkan.

Ada hal-hal yang cuma bisa kita temui dalam diam. Waktu malam, terbangun dan memikirkanmu..

Waktu memegang tanganmu dan tidak yakin, apa aku rela melepasnya lagi biar cuma sementara..

Ketika kita baca buku, komik, novel berdua, da pake ngomong apa-apa. Hanya menikmati dua hal yang kusuka dalam saat yang bersamaan; membaca, dan bersamamu.

Ketika bahkan dalam tangisan kemarahan, kita tau kita memang tidak terpisahkan…

Pokoknya selamat ulang tahun Cantik.. (HOHOHOHO, Senang kamu bisa jujur dihari Ulang tahun saya)

Aku mau menemanimu melewati setiap ulang tahunmu disampingmu….

TUUUUH, ISN’T HE SWEET???????

Aku masih payah, ya Tuhan..

Sampai sekarang masih suka nangis gila-gilaan tiap malam mengingat empat makhluk tersayang yang kutinggalkan..

Masih membagi hatiku masing-masing 25 persen tanpa menyisakan banyak untukMu..

Masih mencemaskan keadaan mereka tiap waktu, seakan tidak bisa mempercayakan mereka dalam lindunganMu..

Masih sering menyalahkan keadaan yang sebenarnya telah Kau atur sedemikian indah hanya untukku..

Dan masih mencintai makhlukMu, lebih dari aku seharusnya mencintaiMu..

Pernah merasa sibuk banget sampe rasanya tenggelam dalam duniamu sendiri?

Pernah ngerasa lelah sekali sampe pengen rasanya menekan tombol pause dan menarik napas sejenak?

Pernah ngerasa tidak tahu harus mulai mengerjakan yang mana karena terlalu banyak yang harus dilakukan?

Saya sedang merasakannya, dan saya capeeeeeek sekali…

Saat lulus kuliah saya bertekad untuk bekerja sesuai bidang yang saya sukai, dan total menekuninya. Dan kini setelah sudah bergelut didunia yang saya mau, mulai disibukkan dengan rutinitas-rutinitas pekerjaan, saya mulai dipercaya menangani beberapa proyek lumayan besar yang dalam penyelesaiannya memerlukan totalitas yang sungguh-sungguh. Beberapa berhasil, dan beberapa lagi sedang dalam proses. No problem, semua puas dan saya dianggap berhasil.

Tapi semua berbalik menjadi menjengkelkan ketika tugas demi tugas dilimpahkan tanpa akhir. kalimat pamungkas seperti; “saya lihat kamu mampu, jadi kerjakanlah”, menjadi momok yang menakutkan. Saya senang kemampuan saya dihargai, tapi bukan begini seharusnya. Ada kesalahan dalam sistem pembagian tugas dalam pekerjaan saya saat ini, dimana punishment untuk yang tidak berprestasi adalah tidak ada kerjaan, dan reward untuk yang dianggap berhasil adalah bekerja tanpa henti.

Jadi tadi siang, saya mengambil keputusan yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya berkata; “Maaf, saya jenuh. Saya menghargai kepercayaan yang diberikan, tapi saya mengundurkan diri dari proyek ini”.

Ah, sudah lama sejak postingan terakhir saya… Setelah mulai bekerja kembali, kesibukan memang menjadi rutinitas yang tidak pernah selesai. Giliran tugas sudah kelar, saya sudah sangat lelah, sehingga males untuk singgah kewarnet, mengingat jasa merekalah yang saya gunakan untuk menjelajah internet setelah saya berhenti dari kantor yang lama, he…

Banyak sekali kejadian menarik setelah saya menekuni pekerjaan baru ini, setelah sempat jobless beberapa lama. Pekerjaan baru saya menuntut saya berinteraksi dengan banyak orang, mulai dari masyarakat kecil hingga pejabat dan anggota dewan. Sulit sekali menyesuaikan diri awalnya, mengingat saya terbiasa bekerja sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama dua orang anggota dewan berkunjung keperpustakaan daerah Kalimantan Selatan, sebelumnya saya sudah cukup sering datang keperpustakaan ini sebagai pengunjung dan pemburu buku klasik (faktanya memang begitu, kebanyakan buku-buku di perpustakaan daerah Kalsel, adalah buku-buku lama atau cetakan pertama). Tetapi mungkin untuk bapak-bapak anggota dewan tersebut, itu adalah kedatangan mereka yang pertama sejak sekian lama, dan tentu saja mereka terperangah melihat keadaan tempat yang disebut sebagai gudang ilmu tersebut. Mungkin kejadian yang sama juga terjadi di beberapa perpustakaan lain yang dikelola oleh pemerintah daerah, sementara tradisi cinta membaca semakin gencar diserukan kepada masyarakat, sarana yang paling mudah dan murah untuk dijangkau masyarakat malah diabaikan.

Keadaan memprihatinkan pertama yang paling mudah ditangkap pandangan adalah, ketika pengunjung naik ke lantai 2 tempat dimana buku-buku koleksi perpustakan ditemptkan, akan langsung terlihat kotoran-kotoran berwarna hitam dilantai perpustakaan, yang ternyata adalah KOTORAN KELELAWAR! Suli sekali pasti untuk menikmati apapun bacaan anda, walaupun itu novel porno, ditempat dimana kotoran kelelawarnya bisa mencapai satu plastic besar dalam 3 hari.  Kondisi menyedihkan lainnya adalah, kondisi rak buku yang sudah lapuk dimakan jaman, dan ternyata, apabila hujan lebat dating, konstruksi bangunan yang tinggi tidak bisa melindungi buku dan rak nya dari terpaan hujan yang dibawa angin, bukankah kelembaban akan mempengaruhi kualitas dan umur buku? Keadaan seperti ini disiasati para pustakawan disana dengan menutup rak buku dan isinya, dengan terpal, persis seperti pedagang kaki lima..

Masalah lainnya yang dialami perpustakaan ini, adalah masalah semua orang, masalah klasik, yaitu dana. Dengar-dengar, perpustakaan ini Cuma mempunyai jatah 800 juta pertahun untuk membeli koleksi buku terbaru,itupun dianggarkan satu buku hanya berharga 60 ribu rupiah! Sementara, berapa harga buku berkualitas termurah yang ada dipasaran? Tidak heran di Banjarmasin, hotspot dibangun hanya untuk kepentingan komersil…

Inti  dari postingan kali ini adalah, betpa tidak sinkronnya apa yang diinginkan oleh pemerintah dengan apa yang mereka berikan kepada masyarakat. Ditengah himpitan ekonomi seperti sekarang, masyarakat lebih memprioritaskan membeli pengisi perut daripada buku yang tidak mengenyangkan. Jadi jangan salahkan masyarakat Indonesia dong kalo mengatakan buku bukan prioritas utama mereka..      

Aku tahu sulit untuk mematikan perasaan yang telah tumbuh dan berbunga.

Tapi, ayolah, berhenti memandangku seperti itu.
Pegang saja tanganku dan mulailah saling memanggil dengan sebutan ‘teman’.

Well, nambah umur lagi Tuhan.

Banyak sms dan telpon berisi ucapan selamat. Semuanya selalu mengingatkan untuk mensyukuri nikmat yang telah Kau berikan. Aku bersyukur Tuhan, terimakasih..

Tapi, seperti manusia umumnya Tuhan, ada banyak doa, permintaan dan harapan yang ingin juga kupanjatkan padamu. Kadang-kadang aku malu, terlalu banyak kemudahan dan kenyamanan yang Kau beri dalam hidupku, dan masih tak cukup-cukup aku meminta. Jadi, Tuhan. Inilah daftar keinginanku.

1. Lindungi keluargaku Tuhan, beri mereka rasa aman, dan jauhkan mereka dari mara bahaya.

2. Beri aku pekerjaan yang kusenangi Tuhan, buat aku dapat menikmati apa yang kukerjakan.

3. Mudahkan masa depanku Tuhan, semua yang kulakukan sekarang jadikanlah jalan yang benar untuk masa depan yang lebih baik.

4. Buatlah aku lebih religius Tuhan, lebih dekat pada-Mu. Tebalkan kecintaanku padaMu.

5. Tuhan, aku tahu kau menciptakan manusia dengan banyak sifat dan perilaku. Tapi tolong jawab aku Tuhan, apakah tidak romantis bisa disembuhkan?

6. Beri kedua orangtuaku umur yang panjang Tuhan. Masih belum dapat aku membahagiakan mereka.

7. Mudahkan jalan kami. Yeah, You know lah what I mean.

 Wew, lihat lah Tuhan, banyak banget kata ‘aku’ diatas. Betapa Ulang Tahun membuat manusia menjadi egois..

 Supaya adil dan tidak terkesan selfish, ada beberapa permintaan lagi Tuhan.

8. Kabulkan harapkan Takdir, beri dia temen-temen band yang bagus dan jadikan musik sebagai sumber penghasilannya.

7. Berikan pekerjaan untuk suami Ati supaya dia tidak perlu repot-repot jualan mie goreng lagi dan tidak perlu lupa bayinya belum diberi susu.

8. Lindungi daerahku, tempat tinggalku, negeriku dan bumiku dari bencana. Kayaknya itu aja deh Tuhan.

Dan oh, iya.. Aku tahu Kau Maha Mengabulkan, dan aku tidak keberatan kalau Kau mulai dari bawah.

Terimakasih untuk nikmat 20 tahun lebih hidup didunia Tuhan.

Resmi sudah, saya baru selesai menandatangani surat pengunduran diri sya yang akan saya serahkan besok. Saya memutuskan berhenti bekerja terhitung 1 Desember mendatang, 4 hari sebelum hari ulang tahun saya. Ironis, jadi pengangguran disaat usia kita bertambah.

Tapi saya bosan, pekerjaan saya sudah menjadi rutinitas yang membosankan. Tidak ada hal yang menantang saya untuk jadi lebih baik lagi, jadi untuk apa saya bertahan?

Karena saya bakal segera menjadi pengangguran dalam waktu kurang dari 3 hari lagi, hari ini saya mau latihan nyantai, he.. Lupa rasanya sehari saja tanpa sibuk-sibuk. Jadi inilah yang saya lakukan seharian hari Rabu tadi.

08.30 Pagi menjelang siang, bangun telat (yang katanya adalah hak istimewa kaum pengangguran)
08.30 – 09.30 Sarapan dikamar sambil nonton teve, ganti-ganti channel dari infotainment, lawakan pagi, animal planet dan akhirnya nongkrong di MTv.
09.30 Jalan-jalan kepasar pagi, kayak ibu-ibu. But you never know what you’ll get there. Saya nemu sawo yang manis dan gede-gede dengan harga murah dan soto ayam enak yang membuat saya sarapan untuk kedua kalinya.
10.00 Pulang sambil ngecengin bapak-bapak tentara yang lagi bersih-bersih jalan.
10.00 – 11.00 Nonton teve lagi.
11.00 – 15.30 Jalan-jalan ke Bnjarbaru buat nyari makan siang.
16.00 – 17.30 Tidur sore dengan MP3 Player dikuping.
17.30 – 18.00 Baca-baca sambil nunggu Maghrib
19.00 – 22.30 Nyoba game baru tapi lama, Leisure Suit Larry Magna Cum Laude yang cabul abisss…
22.30 – 24.00 Baca-baca lagi sambil denger radio.
24.00 – 01.30 Nonton discovery channel sampai ketiduran..

Hmmm, nggak mutu banget ya hari ini. Tapi ternyata cukup menyenangkan jadi pengangguran. Mungkin saya bisa bertahan sampai sebulan mendatang sebelum nyari kerjaan baru.

Sore minggu, saya lagi kesal sehabis beradu argumen dengan makhluk ini, tiba-tiba pintu studio siaran saya diketok dari luar. Ternyata ada seorang pemuda bergitar yang ingin menemui saya. Namanya Takdir.
Si Takdir ini adalah pengamen yang biasa mangkal di perempatan jalan S. Parman Banjarmasin. Baru 3 bulan ngamen disini setelah mengembara dari tanah kelahirannya, Sidrap, Sulawesi Selatan. Dia mau ikut salah satu program radio saya yang memberi kesempatan buat musisi-musisi pemula Banjarmasin untuk menampilkan hasil karya mereka.

Kesan pertama saya dari pemuda ini adalah, lugu. Sempat kaget juga pas dengar dia memperkenalkan namanya, saya bertanya-tanya apa yang mengilhami orang tuanya memberinya nama ini. “Nama asli, mas?” Tanya saya. “Iya mbak, Sama kayak yang dikatepe” (Merogoh kantong buat ngeluarin ktpnya).

Takdir datang dua jam lebih awal dari jam tayangnya..

Setelah menunggu lama, dan mungkin ketiduran di sofa, akhirnya waktu Takdir tampil datang juga, berulangkali dia mengucapkan terimakasih buat saya, radio saya dan semua yang kerja disini, karena sudah diberi kesempatan. Saya sampai terharu, kayaknya hal ini penting banget buat dia. Beda banget sama band-band lain yang sempat tampil juga diacara ini, mereka semua kayaknya sudah menyiapkan diri jadi terkenal.

Akhirnya, Takdir muncul, mengudara, seperti yang diinginkannya. Bicaranya sederhana, jelas, dan cerdas. Saya sering terpana mendengar jawabannya yang lugas atas pertanyaan saya, padahal saya sudah menyiapkan banyak pertanyaan dan komentar buat jaga-jaga seandainya bincang-bincang kami mandek gara-gara Takdir kurang komunikatif. Diakhir acara saya baru tau kalo Takdir juga sempat menjadi penyiar radio di Sidrap sana. Nah, itu baru kejutan!
Takdir juga ngefans banget sama Padi, katanya seandainya nanti dia punya band, akan diberi nama Sobat.

Tapi ternyata bukan cuma itu. Lagu-lagu karya Takdir juga enak banget didengar. Main gitarnya ‘rapi’, padahal dia bilang kemampuan bermain gitarnya masih dasar banget. Suaranya juga oke. Seandainya semua pengamen di Banjarmasin gitu, mungkin nafsu makan saya akan lebih ganas baik lagi.

Inti dari pembicaraan kami adalah, betapa Takdir masih sering menemui pandangan negatif orang tentang pengamen. Padahal menurutnya, mereka menganggap hal itu adalah pekerjaan mereka, dan seperti kebanyakan orang yang bekerja, mereka melakukannya untuk mendapat uang, untuk makan, minum dan kalo ada sisa buat rokok. Tapi yang saya salut, Takdir tidak mengejar pendengar, dia cuma menunggu di satu tempat, main musik sambil berharap ada yang lewat sambil melemparkan uang. “Kalo ga ada yang kasih uang?” tanya saya, “diapresiasi dengan tepuk tangan juga udah cukup mbak” katanya.

Saya suka Takdir, dia punya mimpi, dan berani ngejar mimpinya..

Adik saya yang gila bola kadang-kadang punya ide yang luar biasa. Luar biasa tengil, luar biasa gila, luar biasa nasionalis, luar biasa diluar umurnya. Seperti sore kemarin, saat dia misuh-misuh gara-gara timnas Indonesia dibantai habis Suriah 7-0.

ADIK SAYA
Indonesia kalah telak 7-0!!!
Payah ya, padahal yg diturunkan kan U23, masih muda, masih seger.

SAYA
Lho? Itu kan biasa.
Maksudnya, Indonesia kan sudah biasa kalah.
Tapi, Suriah emang dimana seh letaknya?
(Yah, kalian boleh menggelar atlas didepan saya, saya memang payah dalam geografi)

ADIK SAYA
Suriah ya disitu, deket-deket Arab. (Emang bener ya?)
Kayaknya Indonesia memang bukan level Suriah deh.

SAYA
Uh uh… (karena ga tau harus ngerespon apa)
Kalo ganti pelatih lebih baik kali..

ADIK SAYA
Yah, kan pelatih kita kalo ga Peter Withe, Ivan Kolev, trus kalo gagal, balik ke Peter Withe lagi. Coba tuh kayak Australi yang mau ndatengin Jurgen Klinsmann. Pasti makin oke tuh mainnya.

SAYA
Yang pemain hebat ituh? Wuiiih, keren juga ya? Tapi bayarnya pasti mahal tuh, Indonesia da punya uang sebanyak itu cuma buat pelatih bola.

ADIK SAYA
*Ngayal* Coba ya, ada iuran 100.000 tiap bulan ditiap rumah buat ongkos Timnas, jadi Indonesia sanggup buat bayar pelatih bagus, lapangan bagus, sama obat (maksudnya suplemen kali) yang bagus.

SAYA
100.000 tiap bulan? Mending buat beli makan kaleeeeee.. Mana ada orang yang mau bayar seratus ribu tiap bulan buat ngongkosin orang yang da dikenal?

ADIK SAYA
Emang ga mau punya Timnas bagus?

SAYA
Lebih tertarik punya baju bagus tuh.
Lagian ya, kalo emang rakyat Indonesia mau menyumbang, ga perlu seratus ribu deh. Cukup satu rupiah aja tiap bulannya, dikali dengan jumlah penduduk kita yang ratusan juta, kita udah bisa makmur kok.

ADIK SAYA
Bisa buat lapangan yang bagus?

SAYA
Iyah.

ADIK SAYA
Bisa ngontrak pelatih hebat?

SAYA
Emmm, kalo iurannya tiap bulan, iya, bisa..

ADIK SAYA
Bisa menggelar Piala Dunia di Indonesia juga dong?

SAYA
Kalo iurannya tiap bulan trus nonstop selama beberapa tahun bisa juga.

ADIK SAYA
Wuuahhh, berarti masalahnya cuma duit aja?

SAYA
Ga cuma duit seh, masih banyak masalah yang lain, masalah orang dewasa. Tapi duit memang penting kan? Lagian kalo juga ada duit, mending dibayar buat orang yang memelukan, buat membiayai sekolah biar lebih bagus, atau buat mendidik pelatih Indonesia biar bisa jadi pelatih handal, kayak siapa tadi? Juragan Kisman?

ADIK SAYA
Jurgen Klinsmann!!!

SAYA
Iya, itu pokoknya..

ADIK SAYA
Iya juga ya? Eh tapi…

SAYA
Apalagi, bawel..

ADIK SAYA
1 Rupiah itu gimana seh?

****

Iya seh, kan ga ada ya pecahan 1 rupiah? Kecil banget soalnya, terlalu ga ada artinya kalo dibikin jadi alat tukar. Saking kecilnya sampe ga berharga, ga berasa kalo kita hilangkan dari saku kita, dari dompet kita, dari rekening kita yang mungkin jumlahnya puluhan atau ratusan juta. Tapi kalo satu rupiah dikali 100.000.000 aja, kan udah jadi 100 juta rupiah. Banyak juga kan?

Kebayang ga, kalo jumlah segitu disumbangin ke saya? Saya bisa nikah bulan depan tuh!!!