Saya kadang-kadang malu akan diri saya sendiri. Saya mudah terpengaruh..

Beberapa waktu lalu saya membaca artikel mengenai perjuangan Kylie Minogue melawan kanker payudara yang dideritanya, betapa dia, walaupun kaya raya dan bisa mendapatkan pengobatan terbaik di dunia, tetap harus merasakan sakit dan susah payah yang luar biasa untuk dapat bertahan hidup. Saya kagum dan terpesona perjuangannya.
Lalu, tadi, saya ‘menjelajah’ sebentar untuk mecari informasi mengenai Tupac Shakur almarhum. Lagi-lagi, saya melongo melihat perjalan hidupnya yang penuh warna.
Tuuuuuuh kan, saya terpengaruh lagi..

Sering sekali begitu, saya ini nobita, gampang sekali dipengaruhi dan gampang bersemangat melihat hal-hal baru.

Sampai saya mendengar lagu bangun pemuda pemudi di putar di radio saya (paket untuk Hari Pahlawan, kalo-kalo ada yang bertanya, radio mana yang muter lagu beginian di jaman merdeka sekarang). Sudah lama saya tidak sekhusuk ini mendengarkan lagu-lagu kemerdekaan, menyimak bait demi baitnya dan sumpah, saya merinding.

Saya ingat, duluuuu banget, selagi SD, saya selalu bersemangat saat dapat giliran petugas upacara bendera, selalu paling kenceng kalo nyanyi Indonesia Raya dan selalu menyimak dengan tekun cerita-cerita tentang pejuang-pejuang kita merebut kemerdekaan. Sesimpel itu, dan saat itu saya belum sadar arti dari kata nasionalisme.

Lalu sekarang, saat sudah remaja dewasa seperti sekarang, kemana saya yang dulu? Kemana saya yang bangga dan selalu nyengir lebar saat melihat bendera merah putih berkibar gagah di angkasa? Kemana saya yang selalu mengambil barisan terdepan kalo guru atau kakek saya bercerita mengenai perjuangan berat di jaman perjuangan? Kemana saya yang selalu paling kenceng berteriak Indonesia Raya merdeka, merdeka saat upacara? Ta daaa, Ga ada lagi… Saya yang sekarang adalah orang muda yang lebih hapal sejarah Inggris atau Perancis daripada bangsanya sendiri, saya yang sekarang adalah orang yang sok lebih mengidolakan Che Guavara atau Gandhi dari pada Jenderal Soedirman atau bahkan Seokarno, saya yang sekarang lebih banyak mendengarkan lagu-lagu sperti Autumn Songnya Manic Street Preacher (Hiyyaaa, saya sukaaaa banget lagu ini!!!!!!) dari pada lagu-lagu dalam negeri, saya yang sekarang sok-sokan beli baju branded impor meski menyiksa amplop gaji saya. Lalu, apa hak saya berbicara mengenai NASIONALISME???

Saya, malu… Bagitu gampangnya saya terkontaminasi. Mungkin saya harus jadi orang pertama yang mendaftar wajib militer nanti.

Ada ga sih, tradisi mengucapkan selamat hari Pahlawan? Walaupun aneh, saya ingin mengucapkan selamat hari pahlawan untuk pahlawan-pahlawan Indonesia semuanya, terimakasih untuk rasa yang hampir mirip seperti kemerdekaan yang saya rasakan sejauh ini.

Satu komentar

  1. saya yang sekarang sok-sokan beli baju branded impor meski menyiksa amplop gaji saya

    + dan gaji saya….


Tulis sebuah Komentar

*
*