Ah, sudah lama sejak postingan terakhir saya… Setelah mulai bekerja kembali, kesibukan memang menjadi rutinitas yang tidak pernah selesai. Giliran tugas sudah kelar, saya sudah sangat lelah, sehingga males untuk singgah kewarnet, mengingat jasa merekalah yang saya gunakan untuk menjelajah internet setelah saya berhenti dari kantor yang lama, he…

Banyak sekali kejadian menarik setelah saya menekuni pekerjaan baru ini, setelah sempat jobless beberapa lama. Pekerjaan baru saya menuntut saya berinteraksi dengan banyak orang, mulai dari masyarakat kecil hingga pejabat dan anggota dewan. Sulit sekali menyesuaikan diri awalnya, mengingat saya terbiasa bekerja sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama dua orang anggota dewan berkunjung keperpustakaan daerah Kalimantan Selatan, sebelumnya saya sudah cukup sering datang keperpustakaan ini sebagai pengunjung dan pemburu buku klasik (faktanya memang begitu, kebanyakan buku-buku di perpustakaan daerah Kalsel, adalah buku-buku lama atau cetakan pertama). Tetapi mungkin untuk bapak-bapak anggota dewan tersebut, itu adalah kedatangan mereka yang pertama sejak sekian lama, dan tentu saja mereka terperangah melihat keadaan tempat yang disebut sebagai gudang ilmu tersebut. Mungkin kejadian yang sama juga terjadi di beberapa perpustakaan lain yang dikelola oleh pemerintah daerah, sementara tradisi cinta membaca semakin gencar diserukan kepada masyarakat, sarana yang paling mudah dan murah untuk dijangkau masyarakat malah diabaikan.

Keadaan memprihatinkan pertama yang paling mudah ditangkap pandangan adalah, ketika pengunjung naik ke lantai 2 tempat dimana buku-buku koleksi perpustakan ditemptkan, akan langsung terlihat kotoran-kotoran berwarna hitam dilantai perpustakaan, yang ternyata adalah KOTORAN KELELAWAR! Suli sekali pasti untuk menikmati apapun bacaan anda, walaupun itu novel porno, ditempat dimana kotoran kelelawarnya bisa mencapai satu plastic besar dalam 3 hari.  Kondisi menyedihkan lainnya adalah, kondisi rak buku yang sudah lapuk dimakan jaman, dan ternyata, apabila hujan lebat dating, konstruksi bangunan yang tinggi tidak bisa melindungi buku dan rak nya dari terpaan hujan yang dibawa angin, bukankah kelembaban akan mempengaruhi kualitas dan umur buku? Keadaan seperti ini disiasati para pustakawan disana dengan menutup rak buku dan isinya, dengan terpal, persis seperti pedagang kaki lima..

Masalah lainnya yang dialami perpustakaan ini, adalah masalah semua orang, masalah klasik, yaitu dana. Dengar-dengar, perpustakaan ini Cuma mempunyai jatah 800 juta pertahun untuk membeli koleksi buku terbaru,itupun dianggarkan satu buku hanya berharga 60 ribu rupiah! Sementara, berapa harga buku berkualitas termurah yang ada dipasaran? Tidak heran di Banjarmasin, hotspot dibangun hanya untuk kepentingan komersil…

Inti  dari postingan kali ini adalah, betpa tidak sinkronnya apa yang diinginkan oleh pemerintah dengan apa yang mereka berikan kepada masyarakat. Ditengah himpitan ekonomi seperti sekarang, masyarakat lebih memprioritaskan membeli pengisi perut daripada buku yang tidak mengenyangkan. Jadi jangan salahkan masyarakat Indonesia dong kalo mengatakan buku bukan prioritas utama mereka..      

26 Komentar

  1. Perpus ini salah satu tempat di mana saya begitu sering menghabiskan hari sewaktu kecil. Bahkan sampai SMA-pun saya masih sering ke situ… Waktu itu perpus memang gudang ilmu paling murah yang bisa saya jangkau, lagian jaraknya begitu dekat dari rumah kan?

    Tapi makin hari kondisinya memang makin menyedihkan ya? Apakah kita harus terus-menerus menjadikan Gramedia sebagai tempat baca buku bagus gratisan -dengan tanpa malu jongkok di lorong-?

  2. Makanya, selamatkan buku2 koleksi perpustakaan daerah ke rumah masing2!! *lirik koleksi Jennings dilemari buku kamar* :mrgreen: Tapi ya begitulah kondisi negara ini, pemerintahnya tidak menghargai ilmu dan budaya baca, hanya memikirkan kepentingan kuasa politik mereka..

  3. @ Ka Amed

    Jangan pake kata ganti ‘kita’ dong.. Yang biasa jongkok tanpa malu diGramed kan cuma anda… He..

    @ Mansup

    Hidup gerakan penyelamatan buku-buku perpus!!!!

  4. sekali-sekali dipotret, trus kirim ke surat kabar. kira-kira berhasil ga?? :-?

  5. sebuah ironi. klo begitu saya akan berpikir sebagai pemerintah.
    anggaran dana 800 jt buat perpus. cukuplah itu buat mereka(masyarakat, red.) lagian kita kan bukan cuma mengurus buku di perpus itu. kita kan juga ngurusin kesejahteraan masyarakat. trus lihat dana anggaran kita cuman 5 M. udah bagus tuh dapet segitu.
    nah gmn mbaknya berpikir sebagai pemerintah?

  6. Tanpa bermaksud terlalu membandingkan negara maju dengan negara “kurang maju”:
    Di dekat tempat magang (sebuah desa kecil sekitar 1 jam dari ibukota sebuah negara bagian Ostrali) seminggu sekali kedatangan mobil truk besar (spt mobil box barang, panjangnya >12 m)
    Truk besar itu ternyata adalah perpustakaan keliling dari pemerintah daerah sini (semacam kabupatenlah).
    Selain dari sponsor, tentunya yg menyebabkan adanya truk perpustakaan itu adalah pajak yg besar buat penduduk Ostrali.
    Ah rasanya saya rela kalo pajak pendapatan saya diperbesar kalo bisa lihat perpustakaan keliling sebesar dan selengkap itu….

  7. @ cK

    Sudah masup TV lokal kok mbak, tinggal nunggu reaksi pemerintah gimana..

    @ Malecious Genius

    Seandainya anggaran sedikit trus dibagi sesuai dengan skala prioritas seh da papa mas, tapi kenyataannya

    nggak.Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kalsel yang nota bene tidak memberikan manfaat kepada masyarakat kok

    dapat anggaran milyaran! Padahal kan nggak penting-penting banget…

    @ bsw

    Nah, itulah. Jauh banget kalo kita bandingin kondisi bangsa kita dengan bangsa lain. Tapi, masalah naikkin

    pajak? Waduh, saya seh agak keberatan juga, he….

  8. emang benar seh klo anggaran propinsi ngga cuman 5M. paling ngga ada berapa Triliun gt tergantung propinsinya… seperti halnya ibu rumah tangga. dia harus pinter2 memilih prioritas belanja bulanan. nah mungkin bagi pemda kalsel ada prioritas yang lebih utama. trus klo masalah dewan kerajinan nasional daerah, bisa saja kalsel menganggap hal itu untuk menambah pendapatan daerah. karena bagi kalsel kerajinan mungkin adalah salah satu aset yang sangat berharga kelak. dan sesuai dunia bisnis, tentunya kita akan menginvestasi ke hal yang lebih menguntungkan. nah kalau kenyataannya saya juga ngga tau, soalnya saya bukan pemda kalsel… :)

  9. banyak yah bukunya…

  10. Bajaklah buku-buku semau kalian, itu cara ter ampuh untuk membuat pintar anak bangsa.

    Ayo bajak buku yang berguna mulai dari sekarang!!!

  11. haduh Neng…

    enak banget jalan jalan…ama anggota DPR lagi…

    :lol:

    pasti ganteng ganteng ya Neng?
    *sulut bensin*

    :evil:

  12. Mau nambahin dikit.
    Gmn manusia-manusia di bangsa kita ini mau pintar, kalo harga pajak kertas (yg notabene sbg bahan utama buku)di indonesia selalu meninggi tiap tahun(tentu itu tanggung jawab pemerintah sbg penarik pajak).

    Orang indonesia g pinter —> harga buku yang mahal bagi sebagian orang (malah terkesan eksklusif bagi kaum marjinal pinggiran) —–> karena harga kertas yang selalu naik pajak nya
    setiap tahun.

    slh satu solusi –> E-book

  13. @ vergilisdead

    Kok bisa nyasar kesini Oom????

    @ chiw

    Ganteng seh, tapi saya cukup dengan pak guru saja

    deh…
    *fireproof*

  14. ehh… blog sapa sih nih…hehehe kok aku jd nyasar ya..

    g ding, cuman iseng aja g da kerjaan,buka2 fs bosen, buka2 blog bosen jua, mbahas kertas aja deh jdx. tk cr girl!!

  15. Need assesment atau analisis kebutuhan yang serius mungkin memang hampir tidak pernah dilakukan. Entahlah wadah yang dinamakan dengan ‘musrenbang’ itu.

    Apa yang dibutuhkan dan Apa yang diinginkan memang kerap tidak bertemu.
    :(

    Salam
    :)

  16. No comment

  17. BlogWalking…

  18. Info terbaru mengenai Lomba Desain Blog Telkom Speedy Competition ada di sini.

  19. salute buat anggota dewan.. bisa meluangkan waktunya untuk berkunjung ke perpustakaan daerah.. dikirain kunjungan ke mall atau plasa2 aja… hehehe…

    memang benar, terakhir kali aq ke perpustakaan daerah itu 2 tahun yang lalu.. dan itu kunjungan pertama aq ke perpustakaan daerah, biasanya ke perpustakaan2 di sekolah aja… hihihi.. aq kaget ketika masuk kedalam perpustakaan, tempatnya yang sudah kusam, rak buku yg sudah ga layak lagi buat nampung buku2, lantai yang pecah2.. lalu aq tanya ke orang disebelahku, “apa bener ini perpustakaan daerah?” lalu orang disebelahku menjawab “bukan mas, ini museum buku” katanya sambil cengengesan.. ^_^.. aq lalu ikut tersenyum…

    sejak itu aq ga pernah lagi ke perpustakaan daerah.. bukannya malas kesana, tapi ga ada waktu lagi.. sibuk kejar setoran.. (kerja)..

    koq jadi cerita juga sih, kan niatnya mau kasih komentar.. hihihihi… sorry… terbawa suasana..

  20. membaca membuka jendela dunia. ngenet ngaduk-aduk dunia.

  21. perpustakaan daerah?????

    apaan tuch???? (pura2 lupa)

    dulu sich pernah tapi udah 5 TAHUN YANG LALU!!!!!

    salam knal……

  22. Mau baca gimana kalo perutnya lapar, salam kenal.

  23. Homesick! akhirnya nemu ini. Terakhir ke perpustakaan tsb awal 2005

  24. kotoran kelalawar? wow!

    sumber metana yang flamable + buku + api = :D

  25. akhir-akhir ini pian pina sombong lah ??? he..he…Bagayaan!

  26. pina sombong pian sekarang lah?…, he..he Bagayaan.


Tulis sebuah Komentar

*
*